ardhyaska:

Bagi manusia yang spesiesnya bergelut di ranah seni rupa khususnya desain, sudah panas telinga kalau dibilang “yah mas, cuma gambar aja kok..bisa murah dong” atau “mas cuma bikin logo aja laah masa segitu sih? harga temen mas”. Nah, bagi yang merasa pernah bilang begitu pada mahasiswa desain atau lulusan desain, saya beri penjelasan kenapa harga karya intelektual ini tidak bisa disamakan dengan harga gehu pedas.
Yang membuat sebuah desain ada harganya, itu karena :
1. Proses desain. Pemahaman brief, konsep, ide, brainstorming, dll dipikirkan sama otak. Kalau buat brainstorming itu butuh pergi ke WC, bayar WC 1000 perak termasuk proses desain. Jadi, jangan salah kalau logo saja bisa 2M. Soalnya itu bukan harga/nilai sebuah gambar di print warna. tapi harga sebuah kekayaan intelektual manusia. Tapi logo 2M itu tentu bukan bayar berak di WC sebesar 2Milyar.
2. Standar harga per jam kerja. Kan suka ada tuh tipe-tipe yang bilang “bikin gambar tas kan tinggal gambar aja mas, ngapain 2 minggu?”. Konsep, Ide, sampai gambar itu perlu tahapan. Kalau mau bagus, perlu waktu lama, karena butuh riset, survey, mencari data-data yang mendukung supaya desain itu baik bibit bebet bobotnya. Kalau mau cepat, ya kualitas Sangkuriang. Gak maksimal-maksimal amat. 
3. Awards, jam terbang, pengalaman, deadline, jumlah pemesanan, waiting list pekerjaan lain, dll. Itu sudah termasuk personal dari desainernya. Jangan heran kalau desain iPhone lebih mahal dari desain Mito cina dengan fitur yang sama. Karena desainernya lebih punya jam terbang lebih banyak, kredibilitas yang sudah tidak diragukan.
Maka dari itu, saya tunjukkan bukti bahwa desain itu perlu dihargai sepantas mungkin. Rumus di atas itu buktinya. 
Contoh kasus :
Si Otong pesan sebuah desain Tas ke desainer Iting yang tinggal di Legokhangseur. Si Otong minta Desain tas itu dikerjakan dalam waktu cepat (2 hari). Si Iting adalah desainer yang merasa dirinya Profesional karena jam terbangnya sudah tinggi. Si Iting sudah punya studio sendiri dengan fasilitas internet, WC, AC, dan printer. Si Iting pantas dibayar berapa?
Diket : 
2 hari kerja > n = 2
Profesional > B = 12
UMR Legokhangseur > A = Rp 20.000
Biaya internet, listrik, printer, WC, dll ditotalkan > Misal C = Rp 80.000
Beban kerja, Misalnya yang harusnya dikerjakan selama 4 hari, si Otong minta 2 hari > v = 4
Jawab :
(20.000 x 12 x 4) (4/2) + (80.000 x 4)
Total = 2.240.000

Nah, jadi segitu tuh harga desain tas si Iting itu. Baru desain loh, bukan produk. Kalau itu mah beda lagi masalahnya. Kita bicarakan lagi ke depannya. Aku sih optimis kita cocok.
PS.:rumus di atas sudah ada sebelumnya. jadi bukan saya yg buat. saya hanya memperjelas. copyright untuk penemunya..
Sekian, semoga bermanfaat.

ardhyaska:

Bagi manusia yang spesiesnya bergelut di ranah seni rupa khususnya desain, sudah panas telinga kalau dibilang “yah mas, cuma gambar aja kok..bisa murah dong” atau “mas cuma bikin logo aja laah masa segitu sih? harga temen mas”. Nah, bagi yang merasa pernah bilang begitu pada mahasiswa desain atau lulusan desain, saya beri penjelasan kenapa harga karya intelektual ini tidak bisa disamakan dengan harga gehu pedas.

Yang membuat sebuah desain ada harganya, itu karena :

1. Proses desain. Pemahaman brief, konsep, ide, brainstorming, dll dipikirkan sama otak. Kalau buat brainstorming itu butuh pergi ke WC, bayar WC 1000 perak termasuk proses desain. Jadi, jangan salah kalau logo saja bisa 2M. Soalnya itu bukan harga/nilai sebuah gambar di print warna. tapi harga sebuah kekayaan intelektual manusia. Tapi logo 2M itu tentu bukan bayar berak di WC sebesar 2Milyar.

2. Standar harga per jam kerja. Kan suka ada tuh tipe-tipe yang bilang “bikin gambar tas kan tinggal gambar aja mas, ngapain 2 minggu?”. Konsep, Ide, sampai gambar itu perlu tahapan. Kalau mau bagus, perlu waktu lama, karena butuh riset, survey, mencari data-data yang mendukung supaya desain itu baik bibit bebet bobotnya. Kalau mau cepat, ya kualitas Sangkuriang. Gak maksimal-maksimal amat. 

3. Awards, jam terbang, pengalaman, deadline, jumlah pemesanan, waiting list pekerjaan lain, dll. Itu sudah termasuk personal dari desainernya. Jangan heran kalau desain iPhone lebih mahal dari desain Mito cina dengan fitur yang sama. Karena desainernya lebih punya jam terbang lebih banyak, kredibilitas yang sudah tidak diragukan.

Maka dari itu, saya tunjukkan bukti bahwa desain itu perlu dihargai sepantas mungkin. Rumus di atas itu buktinya. 

Contoh kasus :

Si Otong pesan sebuah desain Tas ke desainer Iting yang tinggal di Legokhangseur. Si Otong minta Desain tas itu dikerjakan dalam waktu cepat (2 hari). Si Iting adalah desainer yang merasa dirinya Profesional karena jam terbangnya sudah tinggi. Si Iting sudah punya studio sendiri dengan fasilitas internet, WC, AC, dan printer. Si Iting pantas dibayar berapa?

Diket : 

2 hari kerja > n = 2

Profesional > B = 12

UMR Legokhangseur > A = Rp 20.000

Biaya internet, listrik, printer, WC, dll ditotalkan > Misal C = Rp 80.000

Beban kerja, Misalnya yang harusnya dikerjakan selama 4 hari, si Otong minta 2 hari > v = 4

Jawab :

(20.000 x 12 x 4) (4/2) + (80.000 x 4)

Total = 2.240.000

Nah, jadi segitu tuh harga desain tas si Iting itu. Baru desain loh, bukan produk. Kalau itu mah beda lagi masalahnya. Kita bicarakan lagi ke depannya. Aku sih optimis kita cocok.

PS.:rumus di atas sudah ada sebelumnya. jadi bukan saya yg buat. saya hanya memperjelas. copyright untuk penemunya..

Sekian, semoga bermanfaat.

jamikanasa:

naphelium:

Carpentry workshop assignment : We have to make wooden box with 15 x 15 x 5 cm dimension and each side of wood must be connected by wood join technique. This product made from recycled materials, Most of us used scrap pine wood from shipping container, so it could be considered as eco-friendly product design. Mine is on the middle-far-right, the one with patchwork wood combination. Glad to work on this task :)

mine is on the center of the pict ♥ :)

:3

jamikanasa:

naphelium:

Carpentry workshop assignment : We have to make wooden box with 15 x 15 x 5 cm dimension and each side of wood must be connected by wood join technique. This product made from recycled materials, Most of us used scrap pine wood from shipping container, so it could be considered as eco-friendly product design. Mine is on the middle-far-right, the one with patchwork wood combination. Glad to work on this task :)

mine is on the center of the pict ♥ :)

:3